MAKALAH
PENELITIAN
PERBANDINGAN POTENSI WISATA DI PONOROGO
(STUDI KASUS DI WADUK NGEBEL DAN SEKITAR KECAMATAN SAWOO)
Makalah penelitian ini dibuat untuk memenuhi tugas
penelitian mata kuliah
Pengantar Ilmu
Sosiologi

DOSEN PENGAMPU :
AL USTADZAH NOVI RIZKA AMALIA, M.A.
MATA KULIAH :
PENGANTAR SOSIOLOGI
OLEH :
M.ADITYA NUGRAHA
HASSAN ASSAID
AULIA SHALAHUDDIN YUNUS
IQBALULLOH AZAM RAMADHAN
PERBADINGAN POTENSI WISATA (STUDI KASUS DI
WADUK NGEBEL DAN SEKITAR KECAMATAN SAWOO)
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. LATAR BELAKANG MASALAH
Indonesia memilki banyak potensi dan sumber
daya alam yang belum dikembangkan secara maksimal,
termasuk didalamnya di sektor pariwisata. Untuk lebih memantapkan
pertumbuhan sektor pariwisata dalam rangka mendukung pencapaian sasaran
pembangunan, sehingga perlu diupayakan pengembangan
produk-produk yang mempunyai keterkaitan dengan sektor
pariwisata. Pengembangan kepariwisataan berkaitan
erat dengan pelestarian nilai-nilai kepribadian dan pengembangan budaya bangsa,
dengan memanfaatkan seluruh potensi keindahan dan kekayaan alam Indonesia.
Pemanfaatan disini bukan berarti merubah secara total, tetapi lebih berarti mengelola,
memanfaatkan dan melestarikan setiap potensi yang ada, dimana potensi tersebut
dirangkaikan menjadi satu daya tarik wisata.
Pembangunan bidang pariwisata
diharapkan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat, karena
sektor pariwisata merupakan salah satu sektor pembangunan di bidang
ekonomi. Kegiatan pariwisata merupakan salah satu sektor non-migas yang diharapkan
dapat memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap perekonomian Negara.
Usaha mengembangkan dunia pariwisata ini didukung dengan UU No 10 Tahun 2009
yang menyebutkan bahwa keberadaan obyek wisata pada suatu daerah akan sangat
menguntungkan, antara lain meningkatnya Pendapatan Asli Daerah (PAD), meningkatnya
taraf hidup masyarakat dan memperluas kesempatan kerja
mengingat semakin banyaknya pengangguran saat ini, meningkatkan rasa cinta
lingkungan serta melestarikan alam dan budaya
setempat.
Kabupaten Ponorogo merupakan salah satu
kabupaten di provinsi Jawa Timur. Ponorogo juga
merupakan daerah yang memiliki potensi yang cukup
tinggi di bidang kepariwisataan. Di Ponorogo terdapat beberapa wisata dimana
didalamnya meliputi wisata alam, wisata religi dan wisata kebudayaan.
Yang tercatat tidak kurang dari 26 objek wisata yang dapat diandalkan
pengembangannya. Sektor pariwisata merupakan salah
satu sektor yang mampu mengangkat perekonomian disaat
perkembangan dunia yang semakin maju seperti saat ini.
Menurut
data statistik di Indonesia dari Tahun 2004 - 2009, industri kepariwisataan
juga telah terbukti memiliki kontribusi yang sangat signifikan dalam
pembangunan ekonomi nasional, terutama perannya sebagai instrument peningkatan
perolehan devisa diluar minyak dan gas ( non migas), hasil hutan dan tambang yang
menurut perkiraan dari para ahli sudah mulai menurun secara drastis. Seperti
halnya wisata religi Ponorogo memiliki Masjid Tegalsari dan Petilasan Pondok
Pesantren Tegalsari yang telah melahirkan banyak tokoh-tokoh nasional seperti
H.O.S Cokroaminoto dan Pondok Modern Darussalam Gontor yang terkenal dengan pendidikan
Islamnya yang unik dalam mendidik santri-santrinya dengan sistim Kulliyyatu-l-Mu’allimin Al Islamiyyah-nya yang tetap eksis sejak
zaman penjajahan hingga zaman kemerdekaan sampai sekarang. Dalam sektor wisata
alam Ponorogo memiliki Waduk Ngebel yang sangat terkenal se Jawa Timur dan
masih banyak lagi. Sebagai cabang wisata budaya, Ponorogo memiliki kesenian Reyog yang telah dikenal
tidak
hanya di Nusantara bahkan sampai ke mancanegara. Kesenian Reyog ini telah menjadi identitas
masyarakat Ponorogo yang pantas untuk dibanggakan.
Akan tetapi dengan banyaknya tourist spot
atau titik pariwisata yang mungkin didatangi oleh wisatawan ataupun turis yang
memungkinkan untuk dijadikan penarik wisatawan untuk bertandang ke Ponorogo,
belum ada ataupun terlihat turis dari dalam negeri ataupun mancanegara yang
berkunjung ke Ponorogo dalam jumlah banyak seperti halnya di Bali atau ditempat
tempat lainnya kecuali sedikit sekali.
Walaupun sektor pariwisata budaya seperti
halnya Reyog Ponorogo sudah tergolong maju dan diakui di kancah internasional,
masih banyak potensi-potensi pariwisata alam maupun religi dan budaya lainnya
yanng harus dieksplorasi demi kemajuan Ponorogo di masa kedepannya dan
pemerintah masih belulm merealisasikan pengembangan tesebut.
Dari masalah di atas, maka pokok permasalahan
diatas adalah bagaimana langkah yang harus dilakukan oleh pihak Pemerintah
Kabupeten Ponorogo untuk mengembangkan potensi pariwisatanya ? Terkhususnya
pariwisata alam yang sangat potensial. Hal inilah yang akan menjadi fokus
penelitian kami yang terfokus pada dua daerah pariwisata alam yaitu Waduk
Ngebel dan sekitar Kecamatan Sawoo.Yaitu keadaan tempat
pariwisata,pengembangannya dan apa langkah yang Pemkab Ponorogo lakukan untuk
pengembangan pariwisata di dua daerah wisata tersebut.
1.2. PERUMUSAN MASALAH
Mengacu
pada latar belakang masalah yang telah dijelaskan diatas, perumusan masalah
kali ini mengungkap potensi wisata yang ada di Ponorogo yang terkonsentrasi
pada Waduk Ngebel dan sekitar daerah Kecamatan Sawoo dan faktor-faktor yang
memperlihatkan atau yang menutupi potensi wisata di dua daerah di atas dan
strategi yang harus dilakukan kedua belah daerah untuk mengeksistensikan
potensi wisata mereka. Secara lebih rinci masalah dapat dirumuskan sebagai
berikut :
1. Potensi-potensi apakah yang dimiliki oleh kedua
belah daerah tersebut?
2. Lebih unggul manakah potensi wisata yang
dimiliki oleh keua daerah tersebut?
3. Faktor-faktor yang mengunggulkan dan yang
menutupi potensi wisata yang dimiliki oleh Waduk Ngebel dan daerah Kecamatan
Sawoo?
4. Bagaimana strategi yang harus dilakukan oleh
kedua daerah tersebut untuk mengokohkan eksistensi pariwisata d dua daerah
tersebut?
1.3. METODE PENELITIAN
Pada penelitian ini menggunakan metode
wawancara langsung terkonsep untuk mendapatkan data spesifik mengenai objek
penelitian serta wawancara abstrak kepada narasumber yang ada di tempat untuk
mendapatkan data realita yang kenyataannya sedang terjadi di Waduk Ngebel serta
sekitar daerah Kecamatan Sawoo, sehingga bisa memahami keadaan dan permasalahan
secara mendalam dan dapat menggambarkan serta mendeskripsikan keadaan sehingga
mempermudah dalam mengolah data menjadi lebih konkrit.
1.3.1. LOKASI PENELITIAN
Penelitian ini mengambil 2 objek penelitian
yaitu :
1. Waduk Ngebel
Waduk yang berada 30 KM timur laut pusat
Kabupaten Ponorogo berada di kaki Gunung Wilis dan berada di Kecamatan
Jenangan, Ponorogo.
2. Kecamatan Sawoo
Kecamatan Sawoo
adalah salah satu kecamatan terluar di Ponorogo
yang berbatasan langsung dengan Kabupaten
Trenggalek di sebelah barat dan Kecamatan Pulung di utara dan Kecamatan Sooko
dan Kecamatan Sambit di timurnya, kantor kecamatan yang laju penduduknya 0,33%
setiap tahunnya ini terletak di Desa Prayungan, dan kecamatan ini memiliki 14
desa :
1. Desa Bondrang
2. Desa Grogol
3. Desa Ketro
4. Desa Kori
5. Desa Ngindeng
6. Desa Pangkal
7. Desa Prayungan
8. Desa Sawoo
9. Desa Sriti
10.
Desa Temon
11.
Desa Tempuran
12.
Desa Tugurejo
13.
Desa Tumpakpelem
14.
Desa Tumpuk
1.3.2. SUBYEK PENELITIAN
Dalam penelitian ini menggunakan beberapa narasumber
untuk mendapatkan informasi yang diharapkan. Narasumber disini adalah :
1. Drs.Susanto
(Kepala Camat Kecamatan Sawoo)
2. Drs.Sukardi
(Sekretaris Kecamatan Sawoo)
3. Beberapa
warga sekitar Kecamatan Sawoo dan Waduk Ngebel
4. Beberapa
penjual dan pembeli di area Waduk Ngebel
5. Turis
yang mengunjung Waduk Ngebel
BAB II
HASIL
PENELITIAN
2.1. PEMBAHASAN
Tema penelitian kami kali ini adalah “STUDI
KOMPARASI POTENSI PARIWISATA DI PONOROGO (Studi Kasus di Waduk Ngebel dan
Kecamatan Sawoo) yang berlokasi di Waduk Ngebel dan sekitar daerah
Kecamatan Sawoo ,Kabupaten Ponorogo,Provinsi Jawa Timur,Indonesia.
Setelah memperhatikan data data yang disajikan
pada latar belakang permasalahan diatas maka bahwa setiap daerah di Indonesia
khususnya memiliki potensi alam yang
telah ada yang telah disediakan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk kelangsungan
hidup manusia sebagai khalifah di muka bumi ini, khususnya potensi
wisata yang menguntungkan masyarakat sekitar daerah itu sendiri secara ekonomi khususnya.
Di
Jawa Timur saja sudah banyak tourist spot yang sudah dieksploitasi dan
di koordinasikan oleh pemerintah daerah. Salah satu contoh yang paling tampak
adalah kota wisata Batu yang hampir menjadi jujukan wisata “wajib” bagi barang
siapa yang berkunjung ke Jawa timur. Sehingga,ekonomi rakyat Kota Batu pun
tercukupi bahkan bisa lebih karena tak hanya potensi pemandangan alamnya yang dieksploitasi,tetapi
juga potensi perkebunan buah – buahan dan sayur – sayuran yang di”pariwisata”kan
oleh pemerintah daerah setempat sehingga bisa melebihkan pendapata
pariwisatanya dari lini perkebunan.
Sedangkan di Ponorogo, yang daerahnya
bervariasi dari dataran rendah hingga perbukitan dan pegunungan rendah atau
sedang (sekitar 200 s/d 1200 mdpl) dan beberapa daerah penampungan air di
beberapa Daerah Aliran Sungai (DAS) karena daerahnya yang “menurun” dan
berbukit. Uniknya, topografi semacam ini hampir mirip dengan topografi daerah
Kota Batu yang berupa pegunungan tinggi dan pegunungan sedang yang tanahnya
juga “menurun”, yang tentunya juga menyimpan potensi wisata yang tentunya
sangat memungkinkan untuk dieksplorasi dan dikembangkan dan nantinya akan layak
untuk dipublikasikan kepada masyarakat nasional maupun internasional.
Seperti halnya pada objek penelitian kami,
yaitu Waduk Ngebel yang terletak di Kecamatan Jenangan,Kab.Ponorogo dan
beberapa daerah wisata di sekitar Kecamatan Sawoo seperti daerah terdampak
Waduk Bendo (karena daerah pariwisata ini sedang masa pembangunan) dan daerah
terdampak pembangunan Waduk Nglinggis dekat Kab.Trenggalek dan lain sebagainya.
Dua daerah ini memiliki beberapa keterpautan dengan keadaan daerah yang
menyimpan potensi wisata yang menjanjikan seperti penjelasan di atas.
Pada peninjuan kami yang pertama adalah di
Waduk Ngebel, pada peninjauan kami pada research spot ini kami
mengadakan beberapa polling kepada beberapa pedagang ,pembeli dan
pengunjung.Dan hasilnnya,hampir 100 % mereka bersepakat pada satu asumsi bahwa
Waduk Ngebel lebih memiliki daya tarik wisata daripada daerah sekitar Kecamatan
Sawoo karena pemandangan yang elok serta fasilitas-fasilitas yang disediakan
oleh pemerintah daerah Kabupaten Ponorogo seperti stand pujasera, stand
penjualan hasil bumi seperti durian, manggis dan nangka yang menjadi andalan
para pedagang di sekitar kawasan wisata Waduk Ngebel, kapal wisata yang akan
membawa pengunjung mengelilingi waduk atau pemancing yang hendak menghajatkan
hobinya. Sehingga, prospek ekonomi di sekitar waduk ini sangat bagus dengan
banyaknya sumber pendapatan masyarakat dari bidang pariwisata ataupun
perdagangan.
Selain objek wisata pemandangan, objek wisata
Waduk Ngebel juga memiliki objek wisata ilmiah, yaitu Pembangkit Listrik Tenaga
Air (PLTA) yang dibangun didekat waduk ini. Menurut data dari salah satu
responden kami yang bersedia membeberkan informasi tentang PLTA ini, PLTA ini
dibangun pada tahun 1968 silam dengan masa pembangunan 10 tahun. PLTA ini juga dapat menjadi penambah wawasan
pelajar tentang kelistrikan yang lebih mengarah pada pengetahuan fisika dan
juga pada wawasan ilmu sejarah karena PLTA ini adalah salah satu pemasok
listrik untuk Kabupaten Ponorogo sejak dulu. Dan juga ada wisata budaya, yaitu
Larung Sesaji yang diadakan setiap tanggal 1 pada bulan Suro (salah satu bulan
penanggalan Jawa).
Jika dilihat dari faktor – faktor kemajuan daerah
wisata ini adalah fasilitas yang diberikan pemerintah untuk pemberdayaan
pariwisata daerah waduk ini yang sebelumnya fungsi utamanya adalah irigasi pertanian
dan sumber daya PLTA .Dan faktor lain yang mendominasi tentunya adalah
publikasi pemerintah akan wisata Waduk Ngebel.
Beralih pada researching spot selanjutnya
di Kecamatan Sawoo,Kabupaten Ponorogo. Secara geografis Kecamatan Sawoo adalah
salah satu kecamatan terluar yang berada kurang lebih 25 KM sebelah tenggara
pusat pemerintahan Kabupaten Ponorogo yang langsung berbatasan dengan Kabupaten
Trenggalek. Kecamatan yang kantornya berpusat di desa Prayungan ini berpenduduk
66.196 jiwa dengan 18.710 KK. Berdasarkan informasi yang kami dapat dari narasumber,
berdasarkan pada hipotesa kami bahwa daerah yang memiliki topografi pegunungan
yang menurun serta perbukitan memiliki potensi wisata yang tersimpan yang dapat
dikembangkan, bahwa beberapa daerah di Kecamattan Sawoo juga memiliki beberapa tourist
spot diantarannya adalah :
1. Air Terjun Tedung
2. Air Terjun Kalikokok di Ds.Temon
3. Bendungan Bendo di Ds.Ngindeng (dalam tahap
pembangunan)
4. Dam Karet
5. Wisata Sejarah Makam kakak Raja Solo Paku Buwono II yaitu Pangeran
Kalipo Kusumo di G.Bayangkaki
6. Gua Dasar di Ds.Temon
7. Petilasan Sunan Kumbul
Selain wisata alam yang bagus, Kecamatan Sawoo
juga memiliki wisata budaya, yaitu Kirab Pusaka Dhara Manggala milik Sunan
Kumbul atau Raja Solo Paku Buwono II yang konon dulu pernah bertapa di pegunungan
di Kecamatan Sawoo yang diadakan setahun sekali yang diiringi oleh Pawai
Kesenian Jaranan Thik dengan penunggang kuda wanita khas Sawoo.
Berdasarkan beberapa hasil observasi, kami
melihat bahwa belum ada atmosfir daerah wisata kecuali sedikit dari yang kami
lihat dan kami rasakan ketika kami berkunjung ke beberapa daerah wisata yang
bapak Kepala Kecamatan Sawoo dan Sekcam Kecamatan Sawoo arahkan kepada kami.
Karena hampir kebanyakan dari tourist spot itu masih terlalu natural dan
minim fasilitas. Sehingga dapat dilihat bahwa perekonomian masyarakat Kecamatan Sawoo belum terpengaruhi
dengan adanya potensi wisata yang ada.
Walaupun belum ada dampak positif
pariwisata di Kecamatan Sawoo bagi
masyarakatnya, mereka menggerakkan ekonomi mereka mayoritas masih dengan cara
klasik, yaitu bercocok tanam dan berkebun. Dapat kita saksikan di lereng –
lereng pegunungan dan perbukitan mayoritas diolah sebagai perkebunan dan
komoditi yang paling mencolok adalah buah melon yang kemudian disusul oleh jagung. Menurut penegasan narasumber, cuaca di
daerah Sawoo ini memang tergolong tidak dingin walaupun dengan alamnya yang
bergunung-gunung akan tetapi tanah pegunungan yang tetap lembap di segala musim
inilah yang dapat dianndalkan untuk kelangsungan melon dan jagung. Dan uniknya
hampir kebanyakan petani perkebunan melon
didominasi oleh kaum hawa.
BAB III
PENUTUP
3.1. KESIMPULAN
Masalah
kurangnya wisatawan yang berkunjung ke daerah Kecamatan Sawoo serta ketimpangan
jumlah wisatawan dengan Waduk Ngebel tak jauh dari faktor yang menyebabkan
ketimpangan tersebut, walaupun Kecamatan Sawoo lebih unggul dalam jumlah tourist spot daripada kawasan wisata
Telaga Ngebel. Faktor tersebut adalah baru dieksplorasi dan dibangunnya
fasilitas pariwisata yang akan menopang pariwisata di daerah tersebut dan
faktor lain dari hal tersebut adalah publikasi serta penyebaran informasi
secara aktif oleh pemerintah setempat maupun pasif oleh masyarakat Ponorogo
terkhususkan masyarakat Kecamatan Sawoo tersebut, sehingga devisa pariwisata
yang akan dibawakan oleh wisatawan tersebut tidak masuk ke kas Pemerintah
Ponorogo melainkan masuk pada ka daerah lain.
Ketimpangan
tersebut juga dibarengi dengan kurangnya ketanggapan pemerintah dalam
pembangunan jalur yang memadai menuju
daerah Kecamatan Sawoo ketimbang Waduk Ngebel, masih dapat dilihat dengan jelas
jalanan yang rusak dan senpit sehingga menyulitkan untuk sampai ke lokasi
walaupun sekarang sudah ada perbaikan jalan dari arah Trenggalek menuju
Ponorogo yang nantinya akan memeudahkan wisatawan mengakses daerah Ponorogo via
Trenggalek, bukan via Madiun saja.
3.2. SARAN
Berdasarkan hasil penelitian ini, ada beberapa
hal yang kan diusulkan :
1. Perlu ditingkatkan informasi mengenai wisata
di Ponorogo seluas-luasnya oleh pihak pemerintah ataupun pihak masyarakat.
2. Dengan ditingkatkan informasi mengenai
pariwisata di Ponorogo, perlu ditingkatkan jalur yang memadai untuk mengakses
lokasi wisata.
3. Perlunya pengelolaan yang baik dan
terorganisir demi kelangsungan pariwisata yang dikembangkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar