Minggu, 09 April 2017

Contoh Makalah Penelitian Lapangan Sederhana



MAKALAH PENELITIAN
PERBANDINGAN POTENSI WISATA DI PONOROGO
(STUDI KASUS DI WADUK NGEBEL DAN SEKITAR KECAMATAN SAWOO)
Makalah penelitian ini dibuat untuk memenuhi tugas penelitian mata kuliah
Pengantar Ilmu  Sosiologi







DOSEN PENGAMPU :
AL USTADZAH NOVI RIZKA AMALIA, M.A.

MATA KULIAH :
PENGANTAR SOSIOLOGI

OLEH :

M.ADITYA NUGRAHA
HASSAN ASSAID
AULIA SHALAHUDDIN YUNUS
IQBALULLOH AZAM RAMADHAN
PERBADINGAN POTENSI WISATA (STUDI KASUS DI WADUK NGEBEL DAN SEKITAR KECAMATAN SAWOO)

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. LATAR BELAKANG MASALAH
Indonesia memilki banyak potensi dan sumber daya alam yang belum dikembangkan secara maksimal, termasuk didalamnya di sektor pariwisata. Untuk lebih memantapkan pertumbuhan sektor pariwisata dalam rangka mendukung pencapaian sasaran pembangunan, sehingga perlu diupayakan pengembangan produk-produk yang mempunyai keterkaitan dengan sektor pariwisata. Pengembangan kepariwisataan berkaitan erat dengan pelestarian nilai-nilai kepribadian dan pengembangan budaya bangsa, dengan memanfaatkan seluruh potensi keindahan dan kekayaan alam Indonesia. Pemanfaatan disini bukan berarti merubah secara total, tetapi lebih berarti mengelola, memanfaatkan dan melestarikan setiap potensi yang ada, dimana potensi tersebut dirangkaikan menjadi satu daya tarik wisata.
Pembangunan bidang pariwisata diharapkan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat, karena sektor pariwisata merupakan salah satu sektor pembangunan di bidang ekonomi. Kegiatan pariwisata merupakan salah satu sektor non-migas yang diharapkan dapat memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap perekonomian Negara. Usaha mengembangkan dunia pariwisata ini didukung dengan UU No 10 Tahun 2009 yang menyebutkan bahwa keberadaan obyek wisata pada suatu daerah akan sangat menguntungkan, antara lain meningkatnya Pendapatan Asli Daerah (PAD), meningkatnya taraf hidup masyarakat dan memperluas kesempatan kerja mengingat semakin banyaknya pengangguran saat ini, meningkatkan rasa cinta lingkungan serta melestarikan alam dan budaya setempat.
Kabupaten Ponorogo merupakan salah satu kabupaten di provinsi Jawa Timur. Ponorogo juga merupakan daerah yang memiliki potensi yang cukup tinggi di bidang kepariwisataan. Di Ponorogo terdapat beberapa wisata dimana didalamnya meliputi wisata alam, wisata religi dan wisata kebudayaan. Yang tercatat tidak kurang dari 26 objek wisata yang dapat diandalkan pengembangannya. Sektor pariwisata merupakan salah satu sektor yang mampu mengangkat perekonomian disaat perkembangan dunia yang semakin maju seperti saat ini.
 Menurut data statistik di Indonesia dari Tahun 2004 - 2009, industri kepariwisataan juga telah terbukti memiliki kontribusi yang sangat signifikan dalam pembangunan ekonomi nasional, terutama perannya sebagai instrument peningkatan perolehan devisa diluar minyak dan gas ( non migas), hasil hutan dan tambang yang menurut perkiraan dari para ahli sudah mulai menurun secara drastis. Seperti halnya wisata religi Ponorogo memiliki Masjid Tegalsari dan Petilasan Pondok Pesantren Tegalsari yang telah melahirkan banyak tokoh-tokoh nasional seperti H.O.S Cokroaminoto dan Pondok Modern Darussalam Gontor yang terkenal dengan pendidikan Islamnya yang unik dalam mendidik santri-santrinya dengan sistim  Kulliyyatu-l-Mu’allimin  Al Islamiyyah-nya yang tetap eksis sejak zaman penjajahan hingga zaman kemerdekaan sampai sekarang. Dalam sektor wisata alam Ponorogo memiliki Waduk Ngebel yang sangat terkenal se Jawa Timur dan masih banyak lagi. Sebagai cabang wisata budaya, Ponorogo memiliki kesenian Reyog yang telah dikenal tidak hanya di Nusantara bahkan sampai ke mancanegara. Kesenian Reyog ini telah menjadi identitas masyarakat Ponorogo yang pantas untuk dibanggakan.
Akan tetapi dengan banyaknya tourist spot atau titik pariwisata yang mungkin didatangi oleh wisatawan ataupun turis yang memungkinkan untuk dijadikan penarik wisatawan untuk bertandang ke Ponorogo, belum ada ataupun terlihat turis dari dalam negeri ataupun mancanegara yang berkunjung ke Ponorogo dalam jumlah banyak seperti halnya di Bali atau ditempat tempat lainnya kecuali sedikit sekali.
Walaupun sektor pariwisata budaya seperti halnya Reyog Ponorogo sudah tergolong maju dan diakui di kancah internasional, masih banyak potensi-potensi pariwisata alam maupun religi dan budaya lainnya yanng harus dieksplorasi demi kemajuan Ponorogo di masa kedepannya dan pemerintah masih belulm merealisasikan pengembangan tesebut.
Dari masalah di atas, maka pokok permasalahan diatas adalah bagaimana langkah yang harus dilakukan oleh pihak Pemerintah Kabupeten Ponorogo untuk mengembangkan potensi pariwisatanya ? Terkhususnya pariwisata alam yang sangat potensial. Hal inilah yang akan menjadi fokus penelitian kami yang terfokus pada dua daerah pariwisata alam yaitu Waduk Ngebel dan sekitar Kecamatan Sawoo.Yaitu keadaan tempat pariwisata,pengembangannya dan apa langkah yang Pemkab Ponorogo lakukan untuk pengembangan pariwisata di dua daerah wisata tersebut.



1.2. PERUMUSAN MASALAH
            Mengacu pada latar belakang masalah yang telah dijelaskan diatas, perumusan masalah kali ini mengungkap potensi wisata yang ada di Ponorogo yang terkonsentrasi pada Waduk Ngebel dan sekitar daerah Kecamatan Sawoo dan faktor-faktor yang memperlihatkan atau yang menutupi potensi wisata di dua daerah di atas dan strategi yang harus dilakukan kedua belah daerah untuk mengeksistensikan potensi wisata mereka. Secara lebih rinci masalah dapat dirumuskan sebagai berikut :
1.      Potensi-potensi apakah yang dimiliki oleh kedua belah daerah tersebut?
2.      Lebih unggul manakah potensi wisata yang dimiliki oleh keua daerah tersebut?
3.      Faktor-faktor yang mengunggulkan dan yang menutupi potensi wisata yang dimiliki oleh Waduk Ngebel dan daerah Kecamatan Sawoo?
4.      Bagaimana strategi yang harus dilakukan oleh kedua daerah tersebut untuk mengokohkan eksistensi pariwisata d dua daerah tersebut?


1.3. METODE PENELITIAN
            Pada penelitian ini menggunakan metode wawancara langsung terkonsep untuk mendapatkan data spesifik mengenai objek penelitian serta wawancara abstrak kepada narasumber yang ada di tempat untuk mendapatkan data realita yang kenyataannya sedang terjadi di Waduk Ngebel serta sekitar daerah Kecamatan Sawoo, sehingga bisa memahami keadaan dan permasalahan secara mendalam dan dapat menggambarkan serta mendeskripsikan keadaan sehingga mempermudah dalam mengolah data menjadi lebih konkrit.
1.3.1. LOKASI PENELITIAN
            Penelitian ini mengambil 2 objek penelitian yaitu :
1.      Waduk Ngebel

Waduk yang berada 30 KM timur laut pusat Kabupaten Ponorogo berada di kaki Gunung Wilis dan berada di Kecamatan Jenangan, Ponorogo.
2.      Kecamatan Sawoo
Kecamatan Sawoo adalah salah satu kecamatan terluar di Ponorogo
yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Trenggalek di sebelah barat dan Kecamatan Pulung di utara dan Kecamatan Sooko dan Kecamatan Sambit di timurnya, kantor kecamatan yang laju penduduknya 0,33% setiap tahunnya ini terletak di Desa Prayungan, dan kecamatan ini memiliki 14 desa :
           
            1.   Desa Bondrang
            2.   Desa Grogol
            3.   Desa Ketro
            4.   Desa Kori
            5.   Desa Ngindeng
            6.   Desa Pangkal
            7.   Desa Prayungan
            8.   Desa Sawoo
            9.   Desa Sriti
            10. Desa Temon
            11. Desa Tempuran
            12. Desa Tugurejo
            13. Desa Tumpakpelem
            14. Desa Tumpuk
1.3.2. SUBYEK PENELITIAN
            Dalam penelitian ini menggunakan beberapa narasumber untuk mendapatkan informasi yang diharapkan. Narasumber disini adalah :
1.         Drs.Susanto (Kepala Camat Kecamatan Sawoo)
2.         Drs.Sukardi (Sekretaris Kecamatan Sawoo)
3.         Beberapa warga sekitar Kecamatan Sawoo dan Waduk Ngebel
4.         Beberapa penjual dan pembeli di area Waduk Ngebel
5.         Turis yang mengunjung Waduk Ngebel



BAB II
                                                            HASIL PENELITIAN

2.1. PEMBAHASAN
            Tema penelitian kami kali ini adalah “STUDI KOMPARASI POTENSI PARIWISATA DI PONOROGO (Studi Kasus di Waduk Ngebel dan Kecamatan Sawoo) yang berlokasi di Waduk Ngebel dan sekitar daerah Kecamatan Sawoo ,Kabupaten Ponorogo,Provinsi Jawa Timur,Indonesia.
            Setelah memperhatikan data data yang disajikan pada latar belakang permasalahan diatas maka bahwa setiap daerah di Indonesia khususnya memiliki potensi alam  yang telah ada yang telah disediakan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk kelangsungan hidup manusia sebagai khalifah di muka bumi ini, khususnya potensi wisata yang menguntungkan masyarakat sekitar daerah itu sendiri secara ekonomi khususnya.
            Di Jawa Timur saja sudah banyak tourist spot yang sudah dieksploitasi dan di koordinasikan oleh pemerintah daerah. Salah satu contoh yang paling tampak adalah kota wisata Batu yang hampir menjadi jujukan wisata “wajib” bagi barang siapa yang berkunjung ke Jawa timur. Sehingga,ekonomi rakyat Kota Batu pun tercukupi bahkan bisa lebih karena tak hanya potensi pemandangan alamnya yang dieksploitasi,tetapi juga potensi perkebunan buah – buahan dan sayur – sayuran yang di”pariwisata”kan oleh pemerintah daerah setempat sehingga bisa melebihkan pendapata pariwisatanya dari lini perkebunan.
            Sedangkan di Ponorogo, yang daerahnya bervariasi dari dataran rendah hingga perbukitan dan pegunungan rendah atau sedang (sekitar 200 s/d 1200 mdpl) dan beberapa daerah penampungan air di beberapa Daerah Aliran Sungai (DAS) karena daerahnya yang “menurun” dan berbukit. Uniknya, topografi semacam ini hampir mirip dengan topografi daerah Kota Batu yang berupa pegunungan tinggi dan pegunungan sedang yang tanahnya juga “menurun”, yang tentunya juga menyimpan potensi wisata yang tentunya sangat memungkinkan untuk dieksplorasi dan dikembangkan dan nantinya akan layak untuk dipublikasikan kepada masyarakat nasional maupun internasional.
             
Seperti halnya pada objek penelitian kami, yaitu Waduk Ngebel yang terletak di Kecamatan Jenangan,Kab.Ponorogo dan beberapa daerah wisata di sekitar Kecamatan Sawoo seperti daerah terdampak Waduk Bendo (karena daerah pariwisata ini sedang masa pembangunan) dan daerah terdampak pembangunan Waduk Nglinggis dekat Kab.Trenggalek dan lain sebagainya. Dua daerah ini memiliki beberapa keterpautan dengan keadaan daerah yang menyimpan potensi wisata yang menjanjikan seperti penjelasan di atas.
Pada peninjuan kami yang pertama adalah di Waduk Ngebel, pada peninjauan kami pada research spot ini kami mengadakan beberapa polling kepada beberapa pedagang ,pembeli dan pengunjung.Dan hasilnnya,hampir 100 % mereka bersepakat pada satu asumsi bahwa Waduk Ngebel lebih memiliki daya tarik wisata daripada daerah sekitar Kecamatan Sawoo karena pemandangan yang elok serta fasilitas-fasilitas yang disediakan oleh pemerintah daerah Kabupaten Ponorogo seperti stand pujasera, stand penjualan hasil bumi seperti durian, manggis dan nangka yang menjadi andalan para pedagang di sekitar kawasan wisata Waduk Ngebel, kapal wisata yang akan membawa pengunjung mengelilingi waduk atau pemancing yang hendak menghajatkan hobinya. Sehingga, prospek ekonomi di sekitar waduk ini sangat bagus dengan banyaknya sumber pendapatan masyarakat dari bidang pariwisata ataupun perdagangan.
Selain objek wisata pemandangan, objek wisata Waduk Ngebel juga memiliki objek wisata ilmiah, yaitu Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) yang dibangun didekat waduk ini. Menurut data dari salah satu responden kami yang bersedia membeberkan informasi tentang PLTA ini, PLTA ini dibangun pada tahun 1968 silam dengan masa pembangunan 10 tahun.  PLTA ini juga dapat menjadi penambah wawasan pelajar tentang kelistrikan yang lebih mengarah pada pengetahuan fisika dan juga pada wawasan ilmu sejarah karena PLTA ini adalah salah satu pemasok listrik untuk Kabupaten Ponorogo sejak dulu. Dan juga ada wisata budaya, yaitu Larung Sesaji yang diadakan setiap tanggal 1 pada bulan Suro (salah satu bulan penanggalan Jawa).
Jika dilihat dari faktor – faktor kemajuan daerah wisata ini adalah fasilitas yang diberikan pemerintah untuk pemberdayaan pariwisata daerah waduk ini yang sebelumnya fungsi utamanya adalah irigasi pertanian dan sumber daya PLTA .Dan faktor lain yang mendominasi tentunya adalah publikasi pemerintah akan wisata Waduk Ngebel.
Beralih pada researching spot selanjutnya di Kecamatan Sawoo,Kabupaten Ponorogo. Secara geografis Kecamatan Sawoo adalah salah satu kecamatan terluar yang berada kurang lebih 25 KM sebelah tenggara pusat pemerintahan Kabupaten Ponorogo yang langsung berbatasan dengan Kabupaten Trenggalek. Kecamatan yang kantornya berpusat di desa Prayungan ini berpenduduk 66.196 jiwa dengan 18.710 KK. Berdasarkan informasi yang kami dapat dari narasumber, berdasarkan pada hipotesa kami bahwa daerah yang memiliki topografi pegunungan yang menurun serta perbukitan memiliki potensi wisata yang tersimpan yang dapat dikembangkan, bahwa beberapa daerah di Kecamattan Sawoo juga memiliki beberapa tourist spot  diantarannya adalah :
1.      Air Terjun Tedung
2.      Air Terjun Kalikokok di Ds.Temon
3.      Bendungan Bendo di Ds.Ngindeng (dalam tahap pembangunan)
4.      Dam Karet
5.      Wisata Sejarah Makam kakak  Raja Solo Paku Buwono II yaitu Pangeran Kalipo Kusumo di G.Bayangkaki
6.      Gua Dasar di Ds.Temon
7.      Petilasan Sunan Kumbul
Selain wisata alam yang bagus, Kecamatan Sawoo juga memiliki wisata budaya, yaitu Kirab Pusaka Dhara Manggala milik Sunan Kumbul atau Raja Solo Paku Buwono II  yang konon dulu pernah bertapa di pegunungan di Kecamatan Sawoo yang diadakan setahun sekali yang diiringi oleh Pawai Kesenian Jaranan Thik dengan penunggang kuda wanita khas Sawoo.
Berdasarkan beberapa hasil observasi, kami melihat bahwa belum ada atmosfir daerah wisata kecuali sedikit dari yang kami lihat dan kami rasakan ketika kami berkunjung ke beberapa daerah wisata yang bapak Kepala Kecamatan Sawoo dan Sekcam Kecamatan Sawoo arahkan kepada kami. Karena hampir kebanyakan dari tourist spot itu masih terlalu natural dan minim fasilitas. Sehingga dapat dilihat bahwa perekonomian  masyarakat Kecamatan Sawoo belum terpengaruhi dengan adanya potensi wisata yang ada.
Walaupun belum ada dampak positif pariwisata  di Kecamatan Sawoo bagi masyarakatnya, mereka menggerakkan ekonomi mereka mayoritas masih dengan cara klasik, yaitu bercocok tanam dan berkebun. Dapat kita saksikan di lereng – lereng pegunungan dan perbukitan mayoritas diolah sebagai perkebunan dan komoditi yang paling mencolok adalah buah melon yang kemudian disusul oleh  jagung. Menurut penegasan narasumber, cuaca di daerah Sawoo ini memang tergolong tidak dingin walaupun dengan alamnya yang bergunung-gunung akan tetapi tanah pegunungan yang tetap lembap di segala musim inilah yang dapat dianndalkan untuk kelangsungan melon dan jagung. Dan uniknya hampir kebanyakan petani perkebunan melon  didominasi oleh kaum hawa.



BAB III
                                                                        PENUTUP
3.1. KESIMPULAN
            Masalah kurangnya wisatawan yang berkunjung ke daerah Kecamatan Sawoo serta ketimpangan jumlah wisatawan dengan Waduk Ngebel tak jauh dari faktor yang menyebabkan ketimpangan tersebut, walaupun Kecamatan Sawoo lebih unggul dalam jumlah  tourist spot daripada kawasan wisata Telaga Ngebel. Faktor tersebut adalah baru dieksplorasi dan dibangunnya fasilitas pariwisata yang akan menopang pariwisata di daerah tersebut dan faktor lain dari hal tersebut adalah publikasi serta penyebaran informasi secara aktif oleh pemerintah setempat maupun pasif oleh masyarakat Ponorogo terkhususkan masyarakat Kecamatan Sawoo tersebut, sehingga devisa pariwisata yang akan dibawakan oleh wisatawan tersebut tidak masuk ke kas Pemerintah Ponorogo melainkan masuk pada ka daerah lain.
            Ketimpangan tersebut juga dibarengi dengan kurangnya ketanggapan pemerintah dalam pembangunan jalur  yang memadai menuju daerah Kecamatan Sawoo ketimbang Waduk Ngebel, masih dapat dilihat dengan jelas jalanan yang rusak dan senpit sehingga menyulitkan untuk sampai ke lokasi walaupun sekarang sudah ada perbaikan jalan dari arah Trenggalek menuju Ponorogo yang nantinya akan memeudahkan wisatawan mengakses daerah Ponorogo via Trenggalek, bukan via Madiun saja.

3.2. SARAN
            Berdasarkan hasil penelitian ini, ada beberapa hal yang kan diusulkan :
1.      Perlu ditingkatkan informasi mengenai wisata di Ponorogo seluas-luasnya oleh pihak pemerintah ataupun pihak masyarakat.
2.      Dengan ditingkatkan informasi mengenai pariwisata di Ponorogo, perlu ditingkatkan jalur yang memadai untuk mengakses lokasi wisata.
3.      Perlunya pengelolaan yang baik dan terorganisir demi kelangsungan pariwisata yang dikembangkan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar